Pages

Thursday, June 23, 2016

Tara Kelima

ujung jemari itu tegas menyentuh segi ini
ujung jemari ini lirih menyentuh rekah itu

kebertemuan netra indah merasuk sukma kami
seolah bukan kapan saja pandangi bima sakti

akankah ini berakhir disini?
suatu kasih takkan tersadari?
akankah ini berakhir disini?
suatu jamah takkan teresapi?

aku ragu mba

entah, apa yang menjadi masalahmu wahai Tara
kau membuatku berpaling, kau membuatku terdiam
bingung

andai saja kita nyata mba

kuberitahu, aku dan kamu itu semu, Tara
jadi mau kamu menggagahiku ya silakan
jadikanku budak hasratmu jangan sungkan
cukuplah aku suci dengan embel-embel sok nyata

ah sok sarkas!
gigiku bergemerutuk
hatiku berkecamuk
mengapa!?

cinta ini butuh solusi bukan ilusi

Tara... Tinggalkanlah aku

Wednesday, June 22, 2016

Tara Keempat

mba, mulai sekarang panggil aku "mas"
aku lebih suka

lalu?

kealpaan luar biasa membuatku lupa
trauma tinggal nama masih lintas jeda
semesta mengerti kita, Tara

tak selayaknya kau melontarkan kata
bagai pukat tertarik hasil hampa
kau mau apa?

sentuhan ini tiada artinya
aku tiada artinya

kupamitkan seluruh jiwa ragaku dari seorang masa lalu
kualihkan segala gemilang asaku untuk seorang kamu
kumulaikan seluruh kemungkinanku dari sedu sedan itu
kuhancurkan segala sangsiku untuk kinasihku padamu

bodoh, iya kan?

tidak mba

sumpah, sampai loncat ingin menciummu
jika saja benar ini kesakitan jiwaku
hanya pikirku sih

mba, "mas" ini sedang ingin dicintai
seraya genit menunjuki diri sendiri

Tara Ketiga

seorang gadis mencuri, memakai, membuang hati
lekaslah pergi, separuh jalanmu takkan sirna
meski telah berlalu hantu masa lalu sekali lagi
kamu nelangsa

aku menghindarinya mba

mengapa?
dia cantik, baik, penyayang, tiada duanya
mungkin saja muda ialah kendala
tunggu sajalah, buah pasti masak pada waktunya

aku masih merusak diriku mba

mengapa?
apakah kamu lupa jika kamu tidak untuk disakiti?
rasakanlah desir darah ketakutanmu dan dia
teror terbesarmu

bukan hanya kamu, lukaku sepedih dirimu

peluk aku, aku butuh pelukan mba
kupeluk kamu

Tara

dekapan ini, peluh saling tertukar
bulirnya menghayati setiap inchi tubuh kita
getar nafasmu terasa di telinga

entah aku baik atau
entah
sabda apa mengharuskanku menyentuhmu

Tara Kedua

"kau berharga"
aku menunggu seseorang mengatakannya kepadaku

mengapa menunggu mba?
membuyarkanku, Tara lagi

puisi ini takkan berakhir
jika ceritaku tiada berujung
mba, aku mau pulang. hujan

iya hujan
membuyarkan obrolan kami
pulanglah
sepenggal kata, mengusirnya halus, sopan

mba, move on ya

apa itu? dua kata asing, terdengar nista
bertaruh diriku sendiri enggan mengilhami
seorang pria, tujuh kilometer dari tempat dudukku berdiam
kututurkan cerita tingkahnya kepada adik tingkat kesayanganku

ia masih kucintai
aku dikutuk waktu
sungguh

Tara, kau belum sepenuhnya mengerti
aku bersyukur kau pergi menerjang hujan
setidaknya ia menaungimu, tidak berhianat
Pengecut ini, percaya cerah kan mengganti

ia masih separuh jalan

Tara Pertama

dalam tubuh yang kumiliki namun tiada sepenuhnya kumiliki
tersimpan rasa, mungkin lama, mungkin baru, mungkin langka, mungkin jenuh
tangis tertahan, serak. lama-lama jiwaku tukak
entah amarah, entah cinta, entah sendu, entah rindu

kepada adik kelasku, Tara, ku bercerita
aku pernah jatuh hati
mungkin sekali, mungkin juga dua kali
maaf jika aku bukan pencerita yang baik

berawal dari ucap
bukan tatap, sebab terlalu muluk
"aku sempat mencintai dia, dia juga mencintaiku"
namun mengapa kalian berpisah? tanyanya, polos

klise

karena kesakitan ialah rindu yang indah
aku pecinta keindahan, ini sederhana
Tara, apa kau merasakannya?
Orang yang merasakan rindu itu sakit
Seperti linu di hati tapi enak

Haha, dia tertawa
Tara, ini tak sesederhana itu