Pages

Tuesday, September 22, 2015

Terlepas dari suara nuraniku
Tiada ingin aku menahanmu
Sebab asamu menjadi abu
Buat dirimu terpandang jemu

Mungkinkah angin kan terbangkan
Remah kecil ke luas tingginya
Kala aku menarik diriku jatuh
Peluk genggam erat anganku

Bertahanlah tinggal denganku

Thursday, September 17, 2015

Masih saja masa itu
Adalah sebuah pembelajaran diri
Mana mungkin tersemat sebuah lara kecil diantara kulit dan dagingku ini
Sedangkan diri tiada pernah barang sekali melangkah terperih duri

Sembab kini peka pada kedua jendela kepalaku
Mereka urung tampakkan tubuhnya
Kasihan
Manusia ini sedang diuji
Tentu sajalah, harga diri

Kering tulangku
Lumpuhkah?
Membubung tinggi imaji.
Ya, jika begitu mengapa tak berhenti?

Pengecut
Lemah
Aku

Saturday, September 12, 2015

Yaaah, Kebingunganku Cukup Memaksa

Kau indah
Siapa sangka kutemukan hal macam ini?
membuatku tersadar, Dia punya rencana.
Aku tahu pasti, sebab ini telah dituliskan.

Bukan ramalan, bukan pula rayuan.
Bukan awalan, bukan pula akhiran.

Yaaah, kebingunganku cukup memaksa
Aku semula cuma tertegun, cuma terdiam
Tiada tunjukkan emosi maupun raut muka
Kau buat mentari di alamku tiada terbenam

Apa yang kubisa?
Meneriakimu "Woi! Aku cinta kamu!" aku tak mampu.

Ah muluk.
Menyapamu saja syaraf simpatetikku semakin memacu denyut kehidupanku.
Itu Autonom alias tidak sadar.
Makanya...

Pahamilah kesusahanku
Resapilah arti ketidakmampuanku
Maka, kau akan temukan
Di dalam relung ini,
Ada potret dirimu.

Tentu saja itu indah

Keajaiban, begitu saja ya.

Kusebut ini sebuah keajaiban saat kau menempuh berjuta milisekon untuk hanya menatap dan bertanya padaku tentang rasa.
Sebuah daya cipta oleh dzat Maha dahsyat, mempertemukan dua insan dalam sentuh dan asa.
Meski hanya nafas yang sama dalam oksigen yang sama.
Entah, mereka penuh rasa syukur.
Ini keajaiban.

Manusia ya. Sebuah bentuk organisme yang katanya sempurna tapi tidak ada yang sempurna.
Jika mereka sedih, pakai persona bahagia.
Jika bahagia, terlihat congkak, atau malah ala kadarnya.
Yah, tergantung kau yang mana.

Kamu sih keajaiban buat aku.

Jadi teringat tentang kematian asaku tempo tahun.
Seakan tiada mampu pandangi dunia.
Dinding pun menutup dan menebal.
Apanya? Seperti tak mampu bergerak itu lho.
Ya, terkungkung. Nah!

Tapi tak apa.
Tawa ini, kata pamungkasku 'tuk akhiri segala hal, 'Tapi tak apa.'
Aku masih mampu.

Dan ini keajaiban...
Pokoknya bagaimanapun, kau dan aku serta rasa. Itu saja sih.