Pages

Saturday, September 12, 2015

Keajaiban, begitu saja ya.

Kusebut ini sebuah keajaiban saat kau menempuh berjuta milisekon untuk hanya menatap dan bertanya padaku tentang rasa.
Sebuah daya cipta oleh dzat Maha dahsyat, mempertemukan dua insan dalam sentuh dan asa.
Meski hanya nafas yang sama dalam oksigen yang sama.
Entah, mereka penuh rasa syukur.
Ini keajaiban.

Manusia ya. Sebuah bentuk organisme yang katanya sempurna tapi tidak ada yang sempurna.
Jika mereka sedih, pakai persona bahagia.
Jika bahagia, terlihat congkak, atau malah ala kadarnya.
Yah, tergantung kau yang mana.

Kamu sih keajaiban buat aku.

Jadi teringat tentang kematian asaku tempo tahun.
Seakan tiada mampu pandangi dunia.
Dinding pun menutup dan menebal.
Apanya? Seperti tak mampu bergerak itu lho.
Ya, terkungkung. Nah!

Tapi tak apa.
Tawa ini, kata pamungkasku 'tuk akhiri segala hal, 'Tapi tak apa.'
Aku masih mampu.

Dan ini keajaiban...
Pokoknya bagaimanapun, kau dan aku serta rasa. Itu saja sih.

No comments:

Post a Comment